Saya memeluk dan mencium diri sendiri. Dia layaknya seorang saya, hanya saja berbeda kelamin, garis hidup dan bau saja. Saya ber-tremor ria rasakan hangat badannya. Iya, badannya selalu hangat. Saya gemetar namun senang, nafas saya berat, tidak sesak namun saya berkeringat. Sejenak semua terasa ringan, ringan seperti kapas putih sesejuk nafasmu, yang kemudian perlahan mulai merayap ke leher saya yang kau klaim dan rasa bahwa itu adalah rahang kasar saya, jeda 3menit kau mulai statis diam dan setelah itu hanya nafasmu yang seakan berbicara muntahkan tembang senjakala. Dan saya mulai coba berpikir tuk masukkan sedikit sari tebu dalam kopi saya, kopi jambi tentunya, ahh.. bukan begitu bu?
Seketika semua kembali ke kosong, saya semakin kerdil dalam tanda tanya besar dan saya menjadi sehampa nilai kosong yang saya rasa. O, Bapak nasib. O, Dzat pengasih. Saya bersyukur bukan hanya hanya saat berpagutan liur dengannya. Saya bersyukur bukan hanya saat saya baui punggungnya. Saya bersyukur hanya karena saya rasa ini indah, dan O, Tuan pencipta perpanjanglah mimpi saya.
Saya,
KopiJambiManis
dug..dug...dug dug...
mantebh
Mr. superhandaljaya atau Mr. kopijambimanis nih sobbb??
hmm